Jump directly to the content

Your Sun

TOP
Prinsip-prinsip Desain

Multimedia Pembelajaran

Dalam merancang multimedia pembelajaran, teori-teori dan prinsip-prinsip pembelajaran harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan prinsip desain multimedia.

Prinsip-prinsip Desain Multimedia Pembelajaran

Teori pemrosessan informasi, teori hirarki pembelajaran dan teori elaborasi dianggap cocok untuk desain multimedia pembelajaran. Teori-teori ini menyediakan strategi yang dapat membantu desainer mengorganisir pembelajaran dan menunjukkan hubungan timbal balik antar isi materi pembelajaran. Diseko (2005) mengemukakan prinsip-prinsip desain multimedia pembelajaran yaitu sebagai berikut:

  • Konsistensi
  • Kesederhanaan
  • Kendali pada pengguna
  • Umpan balik
  • Keterbatasan memori manusia
  • Familiaritas
  • Desain tampilan
  • Ketersediaan bantuan
  • Fasilitas untuk keluar dari satu segmen atau program (Diseko. 2005)
Selain itu dari perspektif teori-teori kognitif pembelajaran multimedia dan hasil penelitian, Mayer (2005) mengemukakan prinsip multimedia pembelajaran. Prin-sip-prinsip ini dapat dintegrasikan dalam desain isi multimedia dan dapat dicakupi oleh seluruh sembilan langkah pembelajaran Gagne. Multimedia bahwa, pengem-bangan multimedia didasarkan pada asumsi-asumsi pokok sebagai berikut:
  • Informasi visual dan auditory diterima oleh audiens dengan dua cara yang berbeda. Kedua informasi ini diproses melalui saluran pemrosesan informasi yang berbda dan terpisah (Baddeley. 1986).
  • Setiap saluran pemrosesan informasi memiliki keterbatasan kemampuan memproses informasi (Sweller & Chandler, 1994).
  • Pemrosesan informasi dalam saluran ini merupakan suatu proses kognitif yang aktif dan ditujukan untuk membangun representasi mental yang koheren. Pembelajaran yang bermakna terjadi manakala pebelajar memilih, menyusun, dan menghubungkan informasi verbal dan noverbal yang terkait   (Moreno & Mayer, 2000, Paivio, 1986).
Asumsi itu dapat diilustrasikan sebagaimana pada gambar dibawah.

Gambar  Illustrasi teori kognitif multimedia pembelajaran oleh Mayer

Dengan asumsi itu, proses diaktifkan melalui lima langkah;
  1. Pemilihan kata-kata yang relavan untuk diproses dalam memori kerja verbal
  2. Pemilihan kata-kata yang relevan untuk diproses dalam memori kerja visual
  3. Pengorganisasian kata-kata yang dipilih kedalam model mental verbal
  4. Pengorganisasian gambar yang dipilih kedalam model mental visual
  5. Pemaduan/integrasi representasi verbal dan visual serta pengetahuan sebelumnya.
Berdasarkan hal tersebut, Mayer (2001) dan Mayer (2005) menjelaskan prinsip dasar multimedia pembelajaran, yaitu;
  1. Prinsip Multimedia (lebih dari satu media) atau Multimedia Principle. Menurut prinsip ini, orang dapat memahami dengan lebih baik kata-kata dengan gambar daripada hanya kata-kata. Animasi yang ditampilkan dilayar, slide show dan narasi sebaiknya memasukkan teks lisan dan tulisan serta gambar diam atau gambar bergerak. Penelitian Mayer membuktikan bahwa teks saja atau audio saja kurang efektif dibanding dengan teks atau narasi yang dibarengi dengan gambar-gambar visual.
  2. Prinsip Penyatuan Perhatian  atau Split-attention Principle. Menurut prinsip ini orang dapat memahami dengan lebih baik manakala kata-kata dan gambar-gam-bar secara fisik dan secara temporal ditampilkan secara menyatu. Ketika mempre-sentasikan teks dan gambar, teks hendaknya didekatkan atau dilekatkan dalam gam-bar dan ditampilkan secara bersamaan. Mendekatkan teks dengan gambar dianggap cukup tapi menempatkan teks di dalam gambar dianggap lebih efektif. Sama halnya dengan teks dan gambar, jika animasi dan narasi digunakan secara bersamaan, ma-ka penyajiannya harus saling memperkuat pesan yang disampaikan.
  3. Prinsip Modalitas atau Modality Principle. Menurut prinsip ini, orang lebih dapat memahami sesuatu dari perpaduan gambar/grafis dan narasi daripada gambar/ grafis dan teks di layar. Kata-kata dalam presentasi multimedia yang disertai gam-bar hendaknya dibuat dengan menggunakan suara atau kata-kata lisan, dan bukan kata tertulis yang menyertai gambar.
  4. Prinsip Redundancy. Menurut prinsip ini, orang dapat memahami dengan lebih baik jika informasi yang sama tidak disampaikan lebih dari satu format. Multimedia  yang  menyajikan  kata-kata  dan gambar hendaknya menyajikan kata-kata itu dalam salah satu format  lisan atau tulisan.
  5. Prinsip Segementasi, Pra-pembelajaran dan Modalitas. Menurut prinsip ini orang akan lebih dapat belajar manakala pesan-pesan multimedia dipresentasikan dalam segment-segment pembelajaran dibandingkan dengan belajar dalam suatu unit lengkap yang panjang. Pembelajaran sebaiknya dibagi-bagi ke dalam konsep-konsep utama dengan mengemukakan secara jelas nama dan karakteristik dari konsep tersebut. Dan pesan multimedia dengan kata-kata lisan lebih efektif dibandingkan dengan kata-kata tertulis.
  6. Prinsip Coherensi, Sinyal, spatial contiguity, temporal contiguity dan redun-dancy. Menurut prinsip ini, orang lebih dapat belajar; (a) manakala bahan atau ma-teri tambahan (yang berlebihan) baik berbentuk kata, gambar dan suara tidak dima-sukkan, (b) manakala terdapat akses untuk mendapatkan bantuan atas materi yang sulit, (c) manakalah kata dan gambar yang saling memperkuat makna ditampilkan berdekatan, dan (d) manakala gambar dan narasi dipadukan tanpa teks.
  7. Prinsip Personalisasi, Suara dan Gambar.  Menurut prinsip ini orang lebih dapat memahami manalaka: (1) narasi dalam presentasi multimedia dibawakan da-lam gaya percakapan daripada gaya formal,  (2) kata-kata yang ucapkan dalam ak-sen manusia  daripada akses robotik atau aksen orang asing, (3) tetapi gambar nara-tor atau pembicara tidak begitu membedakan kemudahan dalam belajar.

 

Artikel Multimedia Lainnya