Jump directly to the content

Your Sun

TOP
Pengetahuan Sebagai

Ciri Khas Manusia

Oleh : Dr.Made Pramono, M.Hum. Dosen Filsafat Unesa

Berpikir merupakan lambang kemanusiaan, hal yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya

.

Pengetahuan Sebagai Ciri Khas Manusia

Patung visualisasi manusia yang sedang berpikir karya Auguste Rodin, merupakan patung monumental yang menandakan keunggulan homo sapiens. Proses berpikir manusia ini seakan-akan tidak pernah ada habisnya kecuali kesadaran terrenggut dari manusia. Menurut Theo Huijbers (dalam Heri dan Listiyono, 2003: 2), berpikir didefinisikan sebagai kemampuan manusia untuk mencari arti bagi realitas yang muncul di hadapan kesadarannya dalam pengalaman dan pengertian. Tak heran bila abstraksi Aristoteles, pemikir agung sepanjang masa, menorehkan julukan bagi manusia: animal rationale.

Proses berpikir ini pada akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan yang berupa pengetahuan. Pada akhirnya, manusia mendapat pengertian-pengertian tentang segala yang dicerapnya, sehingga dapat dipahami bahwa ilmu muncul dari pengetahuan yang khas, yang merupakan tujuan dari proses berpikir manusia (entah tujuan itu disadari atau tidak). Namun perlu digarisbawahi bahwa tidak setiap pengetahuan itu berbuah ilmu. Pengetahuan (knowledge) lebih luas cakupannya dari ilmu (science). Menurut Abbas H.M. (1980: 13), pengetahuan terbagi menjadi tiga jenis:

  1. Pengetahuan prailmiah atau pengetahuan biasa (ordinary knowledge, common sense, biasanya hanya disebut pengetahuan) yaitu suatu pengetahuan yang muncul karena kegiatan akal sehat manusia dalam menanggapi apa yang ada dihadapan kesadarannya.
  2. Pengetahuan ilmiah (science, scientific knowledge, biasa disebut ilmu), yang lebih sempurna dari pada pengetahuan biasa karena mempunyai dan memenuhi syarat-syarat tertentu dengan cara berpikir yang khas, yakni dengan metode ilmiah.
  3. Pengetahuan filsafat (philosophical knowledge), yaitu pengetahuan yang isinya hal-hal yang bersifat dasariah, hakiki, dari objek yang dipikirkan.

Ilmu merupakan pengetahuan yang diperoleh melalui proses tertentu yang dinamakan metode keilmuan. Kegiatan dalam mencari pengetahuan tentang apapun selama hal itu terbatas pada objek empiris dan pengetahuan tersebut diperoleh dengan menggunakan metode keilmuan, sah disebut keilmuan. Kata-kata sifat keilmuan lebih mencerminkan hakikat ilmu daripada istilah ilmu sebagai kata benda. Hakikat keilmuan ditentukan oleh cara berpikir yang dilakukan menurut syarat keilmuan, yaitu bersifat terbuka dan menjunjung kebenaran di atas segala-galanya (Jujun, 1986: 9). Pembeda antara ilmu dengan pengetahuan biasa adalah metode. Sedangkan pembeda antara ilmu atau pengetahuan biasa dengan filsafat, selain metode, juga dilihat dari sifat pokok kajian atau isinya.

Sebagai catatan, sebenarnya pemilahan pengetahuan tersebut di atas dalam kerangka koridor pemfungsian akal. Sebenarnya selain ketiga jenis pengetahuan di atas (yang semuanya menggunakan akal sebagai sarana operasionalnya), manusia masih menyimpan kemampuan memperoleh pengetahuan dengan cara lain. Agama dan fenomena dalam parapsikologi merupakan contoh yang juga nyata, di mana manusia sebenarnya tidak bisa semata-mata diukur dan disempitkan melulu dengan kaidah-kaidah akal. Pada bahasan tentang epistemologi ilmu, wahyu dan intuisi merupakan “alternatif” bagi akal dalam peranannya sebagai pengantar manusia mencapai kesadaran berpengetahuan. Fenomena paralelitas pemfungsian akal dengan pengaktifan kearifan intuitif dan yang semacamnya ini dibahas secara komprehensif dan menarik, misalnya oleh Frithjof Capra dalam bukunya Tao of Physics: Menyingkap Paralelisme Fisika Modern dan Mistisisme Timur.


 

Artikel Filsafat Ilmu Lainnya