Jump directly to the content

Your Sun

TOP
Kaitan Penelitian

Dengan Ilmu Pengetahuan

Jika kita buka khasanah pustaka kita, Tri Dharma perguruan tinggi meliputi (1) tugas pendidikan, (b) tugas penelitian, dan (3) tugas pengabdian kepada masyarakat.

Kaitan Penelitian Dengan Ilmu Pengetahuan

Dalam rangka mengemban tugas tersebut, selayaknya setiap tenaga pengajar di Perguruan Tinggi berkemampuan melaksanakannya. Khusus nya, dalam rangka mengembangkan ilmu pengetahuan, bekal kemampuan meneliti sangat diperlukan. Sebab, penelitian dan ilmu pengetahuan merupakan dua sisi dari "satu mata uang", yang tiada mungkin terpisahkan yang satu dari yang lain. Seperti halnya antara "approach" dengan "methode" dalam dunia pendidikan (Krathwohl, David R., 1985). Sering kita temui pada waktu akhir-akhir ini, adanya kecenderungan melihat ilmu hanya sebagai produk, kurang memperhatikan prosesnya (Balian, Edward S., 1983). Terlalu menekankan konsumerisme, misalnya menjajakan ilmu secara berlebihan ke lembaga-lembaga negeri mau pun swasta, tanpa menemukan rumusan, formula, proposisi, proposisi, atau pun teori-teori baru. Konsumerisme di satu pihak mengakibatkan ketergantung, an, di sisi lain berarti kemandegan, yang akhirnya mengakibatkan kemunduran (Hadi, Sutrisno, 1987). Jika kita kaji secara lebih cermat dan lebih jauh, sesungguhnya:

  1. Penelitian merupakan alat pemroses ilmu pengetahuan. alat tersebut haruslah berjalan dengan cepat dan berkelanjutan supaya dapat menghasilkan produk yang cukup banyak dan berkesinambungan untuk dimasyarakatkan
  2. Pada hakekatnya penelitian merupakan suatu usaha untuk menjembatani dunia konsepsual (conceptual world) dengan dunia empiris (empirical world; Balian, Edward S, 1983).
Di dalam rangka menjembatani dunia konsepsual dengan dunia empiris, peneliti berusaha mencapai ilmu pengetahuan itu sendiri. Oleh Kerlinger (1973) dirumuskan sebagai berikut:
  • menerangkan (explanation)
  • memperoleh pengertian (understanding)
  • meramalkan (prediction)
  • mengkontrol (control)
Dalam kenyataannya memang ada variasi dan gradasi antara cabang ilmu pengetahuan yang satu dengan yang lainnya. Pada waktu akhir-akhir ini, ilmu sosial termasuk ilmu pendidikan berusaha untuk meningkatkan ketajaman dalam mengkontrol dan meramalkan (Ary, Donald, 1985).
  1. Manusia Memiliki Sikap Skeptis Secara mendasar, sikap manusia yang selalu ingin tahu, atau sering pula disebut sebagai sikap "skeptis", telah mengantar manusia ke arah pengembangan cakrawala pengetahuan. Sikap skeptis ini telah ada pada diri setiap insan, sejak manusia lahir. Sikap skeptis ini sangat menonjol dalam bentuk-bentuk kata tanya, diantaranya "apa ini?", "apa itu?", "mengapa begini?", "mengapa begitu?", dan sebagainya. Di balik pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut, dalam diri manusia mencari sesuatu, yakni pengetahuan yang benar (Ary, Donald, 1985)
  2. Pendekatan Menuju Kebenaran Tanpa disadari, semenjak manusia purba selalu merindukan kebenaran, yang tak lain berupa pengetahuan yang benar. Untu mencapainya, dapat diterapkan dua cara pendekatan, yakni:
    • pendekatan non-ilmiah, dan
    • pendekatan ilmiah (Suryabrata, Sumadi, 1983).
Pendekatan non-ilmiah Beberapa pendekatan non-ilmiah yang sering kita temui, antara lain:
  1. Akal Sehat Menurut Kerlinger (1987), yang dimaksud dengan akal sehat merupakan konsep dan skema konsep, sangat membantu manusia dalam kegiatan-kegiatan praktisnya. Menurutnya lebih jauh, konsep merupakan generalisasi daripada fakta. Apabila ditelaah cermat-cermat, hubungan antar konsep dapatberupa teori, proposisi, mau pun hipothesis (Gay, L.R)Salah satu contoh dalam kehidupan sehari-hari, pada masa lampau konsep kekeluargaan kita adalah "anak membawa rezeki", namun, realitanya jumlah anak yang cukup banyak menimbulkan berbagai masalah. Maka, munculah teori-teori baru yang kelihatannya berlawanan dengan pernyataan kuno di atas, "semakin kecil jumlah anak, semakin bahagia keluarga tersebut".
  2. Prasangka Dengan akalnya seseorang akan mencoba mencapai kebenaran, namun, pikiran tersebut akan sangat diwarnai oleh subyektivitas. Oleh sebab itu, seseorang akan dengan sengaja menyatakan kebenaran itu menurut versinya. Pada hal, di sisi lain suatu akibat dipengaruhi oleh berbagai variabel penyebabnya. Menebak sesuatu tanpa memperhitungkan penyebabnya secara umum dan dari berbagai sudut tinjauan, hanya merupakan prasangka belaka (Kidder, Louise H, 1986). Mencari kebenaran dengan prasangka sering dilakukan, namun akhirnya hanya akan menemui kegagalan belaka.
  3. Intuisi Apabila menghadapi suatu permasalahan, seseorang akan berfikir praktis berdasarkan nalarnya (reasoning) belaka tanpa berfikir lebih jauh. Untuk menemukan kebenaran tidak hanya diperlukan nalarnya belaka, namun diperlukan pula pengalaman menghadapi hal yang sama. Pada umumnya, intuisi sering disebut pula "a priori", yang langkahnya kurang tersistematis.
  4. Kebetulan Dalam perjalanan hidup manusia, sering kita temui menjumpai kebenaran secara kebetulan, misalnya ditemukannya kinine, ditemukannya istilah politik, ditemukannya serum pinicilin, dsbnya. Walaupun kesemuanya sangat bermanfaat, namun penemuan tersebut tidak lewat prosedur ilmiah (Krathwohl, David. R, 1985). Dekat dengan model di atas, penemuan secara kebetulan kita temui metode coba-coba. Dengan mencoba-coba seseorang akhirnya akan menemui kebenaran, namun, kebenaran yang diperolehnya juga bukan tergolong ilmiah sebab masih menerka belaka.
  5. Mendasarkan Otoritas Sering terjadi, pendapat sesorang yang berpendidikan tingi atau dari orang-orang yang banyak pengalamannya di bidang ilmiah dianggap sebagai kebenaran. Bahkan, sering pula diterima sepenuhnya tanpa diuji terlebih dahulu. Namun sering kita jumpai pendapat otoritas ini kurang tepat. Sehingga digolongkan sebagai usaha yang kurang ilmiah pula.
Pendekatan ilmiah Apabila suatu pengalaman dibangun atau pun didasarkan atas teori tertentu, dapat dikatakan bahwa kebenaran atau ilmu pengetahuan tersebut berdasarkan pendekatan ilmiah. Teori itu berkembang dan dibangun berdasarkan langkah-langkah yang sistematis, terkontrol dan konstan berlandaskan pada fakta-fakta empiris, yakni lewat penelitian ilmiah. Hasil penelitian ilmiah, selayaknya dapat diuji kebenarannya oleh orang (peneliti) lain. Jika dilakukan dengan metode yang sama, atau pun langkah-langkah yang sama, hasilnya akan sama, atau setidak-tidaknya hampir sama. Hal tersebut terjadi karena landasan penyimpulannya secara ilmiah, yang bercirikan obyektivitas dan kontinuitas. Oleh sebab itu, penting sekali mengkaji penelitian ilmiah demi berkembangnya ilmu pengetahuan. Tanpa penelitian ilmiah, ilmu pengetahuan akan mandek, bahkan mungkin akan menjadi mundur. Hal semacam ini sangat dihindari oleh seluruh bangsa, dan itulah sebabnya mengapa penelitian ilmiah dijadikan salah satu Tri Dharma perguruan tinggi kita. Penelitian Pendidikan Research is the formal, systematic application of the scientific method to the study of problems; educational research is the formal, systematic application of the scientific method to the study of educational problems. (Gay, L.R., 1987) Dari ungkapan L.R. Gay (1987) di atas, dapatlah ditarik kesimpulan betapa besar peranan "penelitian pendidikan" didalam konteks pendidikan secara umum. Penelitian pendidikan merupakan upaya yang harus dilaksanakan jika menginginkan pendidikan maju dan berkembang (Mouly, G.J., 1984; Ary, D., 1985). Pengertian tentang penelitian pendidikan yang lebih mendasar, dapat kita eja dari pernyataan J.H. McMillan (1986) Educational research is constrained by ethical and legal considerations in conducting reserach on human beeings, the public nature of education, the complexity or educational practices, and methodological limitations. Each of these constraints ultimately influences our knowledge about education. Dari batasan-batasan di atas, seyogyanya kita memahami bahwa penelitian pendidikan sangatlah kompleks, dan menyangkut berbagai aspek tingkah laku manusia. Khususnya dalam pembinaan sikap, watak, dan tingkah laku yang bermanfaat bagi kemajuan budaya dan teknologi (Best, J., 1983). Seperti halnya pengetahuan yang lain, tujuan pendidikan antara lain untuk dapat mendiskripsi, mengeksplanasi, memprediksi, dan mengontrol suatu phenomena (Travers, R., 1983).Untukdapat mencapai tujuan tersebut diperlukan penelitian yang canggih. Oleh sebab itu, penelitian pendidikan mutlak diperlukan di dalam konteks pendidikan sebagai bagian dari ilmu pengetahuan (Best, J., 1983). Makna penelitian pendidikan, sesungguhnya merupakan upaya untuk menjembatani antara dunia konsep, konstruk, teori dengan dunia empiris (Mouly, G.J., 1984). Sehingga akhirnya akan ditemukan konsep, konstruk, dan teori yang baru, yang harapkan lebih sempurna bagi kependidikan itu sendiri (McMillan, J.H., 1986). Di dalam "menjembatani" antara dunia teoritis dengan dunia empiris tiadalah semudah yang kita duga, tetapi memerlukan seperangkat pengetahuan yang menunjang (Kidder, Louise H, 1986). Terlebih-lebih apabila ingin menjembatani dunia teoritis dengan dunia empiris di bidang pendidikan, di mana yang hendak dikaji mengenai tingkahlaku atau pun sikap yang bersifat abstrak (Kerlinger, F.N., 1982). Tentu lebih diperlukan ketelitian dalam menemukan masalah, kedalaman menggali khasanah kependidikan dan kecermatan dalam menganalisis data (Mc- Millan, J.H., 1986). Secara keseluruhan, penelitian pendidikan lebih memerlukan kecermatan, dan lebih banyak dijumpai permasalahan di dalam penerapannya (Gay, L.R., 1987).
  • Ary, Donald, Cs., 1985. Introduction to Research in Education. New York: Holt, Rinehart and Winston.
  • Balian, Edward S., 1983. How to Design, Analysis, and Write Doctoral Research. The Practical Guide Book New York: University Press.
  • Fox, D. J., 1983. The Research Process in Education. New York: Holt, Rinehart and Winston.
  • Fraenkel, Jack R., 1992. How to Design and Evaluate Research in Education. New York: McGraw-Hill Inc.
  • Gay, L. R., 1987. Educational Research. Competencies for Analysis & Application. Columbus: A Bell & Company.
  • Gay, L. R., 1985. Student Guide for Educational Research. Competencies for Analysis and Application. Columbus: A Bell & Company.
  • Hadi, Sutrisno, 1998. Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Fak. Psikologi, Universitas Gadjah Mada.
  • Kerlinger, F.N., 1973. Foundation of Behavioral Research. New York: Holt, Rinehart and Winston.
  • Krathwohl, David R., 1985. Social and Behavioral Science Research. San Francisco: Jossey-Bass Publisher.
  • Wiersma, William, 1997. Research Methods in Education. Boston: Allyn and Beacon.
Penulis: Prof Dr Salladien (alm), Guru Besar Universitas Negeri Malang

 

Artikel Pengembangan Lainnya