Jump directly to the content

Your Sun

TOP
Batas

Pengkajian Ilmu

Oleh : Dr.Made Pramono, M.Hum. Dosen Filsafat Unesa

Apakah nilai kebenaran dari ilmu itu bersifat mutlak dan dapat menjawab seluruh permasalahan manusia?

Berikut ini beberapa ringkasan jawaban filsuf-ilmuwan (Burhanuddin Salam, 1997: 94-6)

.

Batas Pengkajian Ilmu

  1. Ilmu terbatas oleh akal manusia (Immanuel Kant)
  2. Ilmu tergantung pada format dan isi soal/objek yang dikaji (D.C. Mulder)
  3. Ilmu gagal memenuhi kerinduan dan kehausan manusiawi akan cinta dan keabadian, arti kematian dan makna kesengsaraan (Frans Dahler)
  4. Ilmu tidak pernah mutlak, akan tersisih oleh ilmu baru yang lebih sempurna dan menjanjikan (Jean-Paul Sartre).

Dapat ditarik kesimpulan dari keterangan-keterangan tersebut di atas, bahwa dalam hal keterbatasan ilmu:

  1. Tidak semua permasalahan kehidupan manusia dapat dijawab tuntas oleh ilmu.
  2. Nilai kebenaran ilmu bersifat positif dalam arti berlakunya sampai saat ini dan juga bersifat relatif atau nisbi dalam arti tidak mutlak kebenarannya.
  3. Batas dan relativitas ilmu pengetahuan bermuara pada filsafat dalam arti semua persoalan yang berada di luar atau di atas jangkauan ilmu pengetahuan itu diserahkan kepada filsafat untuk menjawabnya.

Objek ilmu seolah-olah tidak ada batasnya, namun penjelajahan ilmu ada batasnya. Demikian kesimpulan yang bisa diambil dari paparan di atas. Secara signifikan ontologi membahas hal ini. Apakah batas penjelajahan ilmu itu? Di mana ilmu berhenti dan menyerahkan pengkajian selanjutnya kepada pengetahuan yang lain (termasuk filsafat atau agama)? Apa yang menjadi karakteristik objek ontologis ilmu yang membedakan ilmu dari pengetahuan-pengetahuan yang lain? Jawabannya: ilmu memulai penjelajahannya pada pengalaman manusia dan berhenti di batas pengalaman manusia. Persoalan hari kemudian tidak ditujuakan kepada ilmu, melainkan kepada pengetahuan agama. Ilmu membatasi lingkup penjelajahannya pada batas pengalaman manusia juga disebabkan metode yang digunakan yang teruji secara empiris. Mempersoalkan surga dalam wacana ilmiah sama saja dengan memaksakan kontradiksi yang menghilangkan kesahihan metode ilmiah. Bagaimana melakukan pembuktian empiris tentang surga?

Ruang penjelajahan keilmuan terbagi lagi menjadi berbagai subdisiplin ilmu yang terus menyempit ruang kajiannya namun menajam pembahasannya. Ini dikenal sebagai spesialisasi ilmu. Kalau di bagian terdahulu dijelaskan pada fase awal hanya ada ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial, maka dewasa ini terdapat lebih dari 650 cabang keilmuan (Jujun, 2002: 92). Ilmuwan harus tahu benar batas-batas eksplorasi disiplin keilmuannya masing-masing. Tanpa kejelasan batas-batas ini, maka pendekatan multidisipliner ??“ yang memang semakin diperlukan ??“ tidak akan bersifat konstruktif namun justru menjadi pengacauan. Tepat sekali kalimat yang terukir di Orakel Delphi untuk diterapkan pada ilmuwan dalam hal pembatasan ini: gnoti seauton! (kenalilah dirimu sendiri).

 

Artikel Filsafat Ilmu Lainnya